MASA ASOSIASI 1987
Maret 30, 2008
pink2012
Sistem pembiayaan penelitian sepertiyang tersebut terakhir di atas menimbulkan beberapa hambatan akibat : (i) kesulitan pemerintah mendanai balai-balai penelitian ex-Belanda yang statusnya bukan pengawai negeri, (ii) beban PNP-PNP dalam pembiayaan ganda balai penelitian dan research center yang melakukan kegiatan komoditi yang sama, dan (iii) rendahnya efisiensi biaya dan pengelolaan. Untuk mengatasi kendala ini maka pada tahun 1987 dibentuk Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia (AP3I) yang beranggotakan BUMN Perkebunan dan Perusahaan Perkebunan Swasta serta menjalin kerjasama yang erat dengan pemerintah. Melalui SK Menteri Pertanian No. 823/Kpts/KB/8110/II/89, pengelolaan dan pendanaan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk komoditi perkebunan diserahkan kepada AP3I. Institusi penelitian yang diserahkan kepada AP3I meliputi 10 balai penelitian, yaitu Pusat Penelitian Perkebunan (Puslitbun) Bogor menangani penelitian rintisan, Puslitbun Sungei Putih untuk Penelitian Karet, Puslitbun Tanjung Morawa untuk penelitian karet, Puslitbun Getas untuk penelitian karet, Puslitbun Medan untuk penelitian Kelapa Sawit, Puslitbun Marihat untuk penelitian kelapa sawit, Puslitbun Bandar Kuala untuk penelitian kelapa, Puslitbun Gambung unuk penelitian teh dan kina, serta Puslitbun Jember untuk penelitiankopi dan kakao. Untuk menguasai aspek ekonomi dan pemasaran, maka AP3I membentuk Pusat Penelitian dan Pengkajian Agribisnin (P2PA) melalui TAP RA AP#I Nomor 12/ra/1989 dan Memorandum Menteri Muda Pertanian No. 05.210/145/MM/IX/89.
Agar dapat melakukan koordinasi dengan lebih baik, pada tahun 1992 dilakukan reorganisasi institusi penelitian dengan cara mengelompokkannya berdasakan komositas yang ditanganinya. Atas dasar itu, maka Puslitbut Jember diubah menhadui Pusat Penelitian (Puslit) Kopi dan Kakao, Puslitbun Gambung diubah menjadi Puslit Teh dan Kina, puslitbun Medan digabugn dengan Puslitbun Marihat dan Bandar Kuala menjadi Puslit Kelapa Sawit, sedangkan Puslitbun Getas, Puslitbun Sembawa, Puslitbun Sungei Putih, dan Bagian Teknologi karet Bogor Puslitbun Bogor digabungkan menjadi Puslit Karet. Untuk puslit yang merupakan gabungan beberapa puslitbun,puslibun ditetapkan sebagai balai penelitian yang secara organisasi berasa di bawah puslit. Dalam rangka mengikuti perkembangan teknologi, Bagian Penelitian Budidaya Puslitbun Bogor diubah menjadi Puslit Bioteknologi Perkebunan melalui SK DPH AP3I No. 084/Kpts/DPH/XII/1992 pada akhir tahun 1992.
Pada tanggal 1 Februari 1996, AP3I dan Asosiasi Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (AP3GI) dilebur menjadi satu asosiasi dengan nama Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (APPI). AP2GI beranggotakan BUMN dan perusahaan gula milik swasta yang hanya memiliki satu balai penelitian, yaitu Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula (BP3G) di Pasuruan, yang pada tahun 1987 diberi nama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia(P3GI). Selanjutnya dilakukan reorganisasi, sehingga APPI mengelola lima pusat penelitian, yaitu : Puslit Kelapa Sawit, Puslit Karet, Puslit Teh dan Kina, Puslit Kopi dan Kakao, serta P3GI. Puslit bioteknologi Perkebunan diserahkan di bawah koordinasi Balai Penelitian Biotkenologi Perkebunan (Balit Bio), sedangkan P2PA diserahkan di bawah koordinasi Puslit Sosial Ekonomi (PSE). Balit Bio dan PSE ini adalah instansi resmi milik Badan Litbang Pertanian. Meskipun di bawah koordinasi Badan Litbang Pertanian, sampai saat ini pembiayan operasional ex-Puslit Bioteknologi dan ex-P2PA masih ditanggung oleh APPI karena status kepegawaiannya tidak dapat dijadikan pegawai negeri sipil. Walaupun di bawah Badan Litbang Pertanian, kegiatan penelitian dari kedua puslit tersebut terakhir ini tetap pada komoditi perkebunan.
Sumber : Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (www.ipard.com)
Entry Filed under: SEJARAH
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed