PERSIAPAN NAUNGAN DAN PANGKASAN BENTUK

Kakao (Theobroma cacao, L) merupakan salah komoditas perkebunan
yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat
berbunga dan
berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan
harian
atau mingguan bagi pekebun.
Tanaman kakao berasal dari daerah hutan hujan tropis di Amerika
Selatan. Di daerah asalnya, kakao merupakan tanaman kecil di bagian
bawah
hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung pohon-pohon yang besar.
Oleh karena
itu dalam budidayanya, tanaman kakao memerlukan naungan.
Sebagai daerah tropis, Indonesia yang terletak antara 6 LU – 11 LS
merupakan daerah yang sesuai untuk tanaman kakao. Namun setiap jenis
tanaman mempunyai kesesuian lahan dengan kondisi tanah dan iklim
tertentu,
sehingga tidak semua tempat sesuai untuk tanaman kakao, dan untuk
pengembangan tanaman kakao hendaknya tetap mempertimbangkan
kesesuaian lahannya.
Sebagai tananam yang dalam budidayanya memerlukan naungan, maka
walaupun telah diperoleh lahan yang sesuai, sebelum penanaman kakao
tetap
diperlukan persiapan naungan. Tanpa persiapan naungan yang baik,
pengembangan tanaman kakao akan sulit diharapkan keberhasilannya.
Oleh karena itu persiapan lahan dan naungan, serta penggunaan
tanaman yang bernilai ekonomis sebagai penaung merupakan hal penting
yang
perlu diperhatikan dalam budidaya kakao. 

PERMASALAHAN
Pengembangan tanaman kakao, budidayanya memerlukan naungan.
Tanpa persiapan lahan dan tanpa persiapan naungan yang baik,
pengembangan tanaman kakao akan sulit diharapkan keberhasilannya.
Tanaman penaung yang biasanya digunakan adalah Moghania
macrophylla sebagai penaung sementara dan, Lamtoro atau Glirisidia
sebagai
penaung tetap, yang tidak memberikan manfaat ekonomis secara
langsung bagi
petani, sehingga kurang menarik bagi petani.
Secara umum, dalam budidaya kakao juga dihadapi masalah harga
komoditi yang tidak menentu, kondisi lahan yang semakin menurun,
serta mutlak
diperlukannya naungan dalam budidayanya. Oleh karema itu, maka pola
diversifikasi tanaman kakao merupakan peluang untuk pengembangan
kakao
dengan pemanfaatan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis seperti
pisang
sebagai penaung sementara, dan kelapa sebagai penaung tetap, serta
jati.
sengon, atau tanaman lainnya sebagai tanaman tepi blok kebun. 

KESESUAIAN LAHAN DAN SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO
Untuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik, tanaman kakao
menghendaki lahan yang sesuai, yang mempunyai keadaan iklim dan
keadaan
tanah tertentu
Keadaan iklim yang sesuai untuk tanaman kakao, antara lain :
- Curah hujan cukup dan terdistribusi merata, dengan jumah curah
hujan 1500-
2500 mm/th, dengan bulan kering tidak lebih dari 3 bulan.
- Suhu rata-rata antara 15 – 30 C, dengan suhu optimum 25,5 C
- Fluktuasi suhu harian tidak lebih dari 9 C
- Tidak ada angin bertiup kencang
Keadaan tanah yang dikehendaki tanaman kakao antara lain :
- Solum tanah dalam (>150 cm)
- Tekstur dan struktur tanah baik, sehingga tanah mempunyai daya
menahan
air, aerasi, dan drainase yang baik
- pH tanah antara 6 - 7
- Kandungan bahan organik tidak kurang dari 3%
- Kandungan unsur hara cukup tinggi
Dengan peninjauan dan survei langsung di lapangan akan dapat
diperoleh
data primer maupun data sekunder mengenai keadaan iklim dan tanah
untuk
lahan daerah dimaksud.
Berdasarkan data-data keadaan kondisi iklim dan tanah, tingkat
kesesuaian lahan untuk suatu tanaman dapat dievaluasi dan
diklasifikasikan
dalam katagori sesuai (S) atau tidak sesuai (N). Lahan yang sesuai
dapat
dibedakan menjadi S1 (sesuai), S2 (cukup sesuai), dan S3 (kurang
sesuai).

PERSIAPAN LAHAN DAN NAUNGAN
Persiapan lahan dan naungan sebaiknya sudah dilakukan satu tahun
sebelum tanaman kakao ditanam, sehingga pada saat bibit kakao
ditanam,
tanaman penaung di lapangan sudah tumbuh dengan baik dan siap
berfungsi
sebagai penaung kakao.
Untuk tanaman penaung, biasanya digunakan Moghania macrophyla
sebagai tanaman penaung sementara, dan tanaman Gamal (Gliricidia sp)
atau
Lamtoro (Leucaena sp) sebagai tanaman penaung tetap. Di samping itu
dapat
pula digunakan tanaman-tanaman produktif seperti pisang sebagai
penaung
sementara, kelapa sebagai tanaman penaung tetap, ataupun tanaman
lainnya.
Moghania macrophylla
Sebagai tanaman penaung sementara, Moghania macrophylla ditanam
satu tahun sebelum tanam kakao, dengan menggunakan benih sekitar 20-
30
kg/ha, dan ditanam sebagai barisan arah utara-selatan dengan jarak
antar
barisan sesuai dengan jarak tanam kakao (misalnya 3 m). Diharapkan
pada saat
tanam kakao, barisan Moghania sudah mencapai tinggi sekitar 2,5 m
dan sinar
matahari yang masuk lorong tempat tanaman kakao ditanam pada jam
11.00 –
13.00. 

Tanaman Moghania macrophylla dapat disiwing sehingga lorong menjadi
lebih longgar. Setiap tahun pada awal musim hujan dapat dipotong
sampai
ketinggian 10 cm dari permukaan tanah. Pada saat tanaman kakao
berumur 4
tahun atau pada saat tajuk kakao sudah saling menutup, tanaman
penaung
sementara Moghania macrophylla ini didongkel seluruhnya.
Gamal (Gliricidia sp) atau Lamtoro (Leucaena sp)
Sebagai tanaman penaung tetap, Gamal (Gliricidia sp) atau Lamtoro
(Leucaena sp) ditanam bersamaan dengan saat tanam naungan sementara,
yaitu satu tahun sebelum tanam kakao. Bahan tanaman Gamal
(Gliricidia sp)
berupa stek panjang 1,5 m dan diameter sekitar 5 cm, sedangkan
Lamtoro
(Leucaena sp) berupa cangkokan dengan panjang sekitar 1 m.
Pada awalnya tanaman penaung tetap ditanam dengan jarak sesuai
dengan jarak tanam kakao (misalnya 3x3 m), dan selanjutnya
populasinya
dikurangi secara sistematis dan bertahap, yaitu pada saat tanaman
kakao
berumur 4 tahun didongkel 25%, dan pada saat kakao berumur 5 tahun
didongkel lagi 25%.
Populasi tanaman penaung tetap Gamal atau Lamtoro tersebut
selanjutnya dipertahankan sekitar 500-600 ph/ha untuk daerah bertipe
curah
hujan C-D, dan sekitar 200-300 ph/ha untuk daerah bertipe curah
hujan A-B.
Berdasar populasi tersebut, selanjutnya pada awal musim hujan
sebanyak 50%
ditokok berselang-seling, dan 50% sisanya ditokok pada awal musim
hujan
berikutnya. 

PEMANFAATAN TANAMAN LAIN SEBAGAI PENAUNG
Tanaman-tanaman produktif dan mempunyai nilai ekonomis, yang
mempunyai tajuk lebih tinggi daripada tanaman kakao, mempunyai
kesamaan
persyaratan lahan dengan tanaman kakao, serta tidak bersifat
kontradiktif
dengan tanaman kakao, dapat dimafaatkan untuk tanaman penaung kakao.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan tanaman bernilai
ekonomis tersebut adalah pengaturan tata tanam agar persaingan
antara
tanaman kakao dengan tanaman penaung tersebut diusahakan seminimal-
minimalnya, namun tanaman tersebut dapat.memberikan naungan yang
cukup
untuk tanaman kakao
Pisang (Musa paradisiaca)
Tanaman pisang dapat dimanfatkan sebagai tanaman penaung
sementara dalam budidaya kakao. Tanaman pisang dapat ditanam dengan
jarak
tanam 6x3 m, sehingga di dalam lorong tanaman pisang arah utara-
selatan
dapat ditanam 2 baris tanaman kakao dengan jarak tanam 3x3 m.
Sebagai tanaman penaung sementara, tanaman pisang dapat ditanam 6-
12 bulan sebelum tanam kakao. Selanjutnya rumpun pisang dapat diatur
dengan
memelihara 2-3 anakan saja. Tanaman pisang dapat dipelihara sampai
tahun ke
4 atau sesuai dengan keperluan dengan tetap memperhatikan tingkat
penaungannya untuk tanaman kakao. Tata tanam kakao dengan pisang
sebagai
tanaman penaung sementara dapat digambarkan sebagai berikut : 

x o o x o o x o o x o o x o o x
o o o o o o o o o o
x o o x o o x o o x o o x o o x
o o o o o o o o o o
x o o x o o x o o x o o x o o x
o o o o o o o o o o
x o o x o o x o o x o o x o o x
o o o o o o o o o o
x o o x o o x o o x o o x o o x
Keterangan
- Jarak tanam kakao 3 x 3 m (1100 ph/ha)
- Jarak tanam kelapa 6 x 3 m (550 ph/ha)
Barisan arah utara-selatan
Kelapa (Cocos nucifera)
Tanaman kelapa dapat digunakan sebagai tanaman penaung tetap untuk
tanaman kakao. Dalam hal ini harus diatur agar persaingan minimal.
Sebaran
akar kakao terbanyak sampai radius 1 m dan sebaran akar kelapa
terbanyak
sampai radius 2 m, oleh karena itu perlu dibuat tatatanam dengan
jarak antara
kakao dan kelapa minimal 3 m. Dengan jarak tanam kelapa 10x10 m dan
jarak
tanam kakao 4x2 m dalam gawangan kelapa utara-selatan, maka dapat
diperoleh pertanaman dengan populasi tanaman yang cukup yaitu
tanaman
kakao 1000 ph/ha dan kelapa 100 ph/ha.
Sebagai penaung tanaman kakao, fungsi penaungan tanaman kelapa
dapat diatur dengan melakukan siwingan (pangkasan) pelepah bila
penaungannya terlalu gelap, terutama pada musim hujan. Demikian pula
pada
tanaman kelapa yang sudah cukup tua dan tinggi, apabila penaungannya
kurang
dapat ditambah tanaman penaung lain misalnya dengan lamtoro yang
ditanam di
diagonal tanaman kelapa. 

Tata tanam dalam penggunaan kelapa sebagai penaung kakao dapat
disusun sebagaimana gambar berikut
X o o X o o X o o X o o X
o o o o o o o o
o o o o o o o o
o o o o o o o o
o o o o o o o o
X o o X o o X o o X o o X
o o o o o o o o
o o o o o o o o
o o o o o o o o
o o o o o o o o
o o o o o o o o
X o o X o o X o o X o o X
Keterangan
- Jarak tanam kakao 4x2 m (1000 ph/ha)
- Jarak tanam kelapa 10x10 m (100 ph/ha)
- Jarak kakao-kelapa 3 m
Tanaman kayu-kayuan dan tanaman lainnya
Tanaman kayu-kayuan atau tanaman lain yang mempunyai nilai ekonomis
juga dapat dimanfaatkan sebagai penaung, tanaman sela, ataupun
tanaman tepi
dalam budidaya kakao.
Tanaman Jati (Tectona grandis) dan Sengon (Albisia falcata) dapat
dimanfaatkan sebagai tanaman tepi kebun ataupun tanaman sela pada
pertanaman kakao. Pada pertanaman kakao tersebut tetap dimanfaatkan
penaung Lamtoro atau Gamal, sedangkan Jati dan Sengon ditanam dalam
barisan dua baris (double row) 3 x 2 m dengan jarak antar barisan
jati atau
sengon 24 - 30 m. Dengan tatatanam demikian terbentuk lorong
diantara
tanaman jati atau sengon, yang dapat ditanami tanama kakao 3x3 m
Dalam hal ini jati, sengon atau tanaman kayu-kayuan yang lain dapat
difungsikan sebagai tanaman penaung dan atau tanaman pematah angin. 

x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + +
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + +
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + +
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + +
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + +
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + +
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + +
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + +
x x o o . o o + + o o . o o x x o o . o o + +
Keterangan
- Jarak tanam kakao (3 x 3) m
- Jarak tanam Jati (3 x 2) m x 24-30 m
- Jarak tanam Sengon (3 x 2) m x 24-30 m 

PENUTUP
Pengembangan tanaman kakao hendaknya tetap memperhatikan
kesesuaian lahannya. Sebagai tananam yang dalam budidayanya
memerlukan
naungan, sebelum penanaman kakao perlu persiapan lahan dan naungan
yang
prima. Tanpa persiapan naungan yang baik, pengembangan tanaman kakao
akan sulit diharapkan keberhasilannya.
Untuk tanaman penaung kakao, dapat digunakan tanaman yang
mempunyai nilai ekonomis seperti pisang sebagai penaung sementara,
dan
kelapa sebagai penaung tetap, serta jati. sengon, atau tanaman
lainnya sebagai
tanaman tepi blok kebun. Penggunaan penaung tersebut perlu disusun
dalam
tatatanam yang tepat, sehingga dapat memberikan produksi yang
optimal dan
memberi manfaat konservasi lahan.
Persiapan lahan, penyiapan bibit, dan saat tanam harus dilakukan
dengan
perencanaan yang tepat, sehingga pada saat tanam, bibit kakao siap
tanam, dan
tanaman penaung di lapangan siap berfungsi sebagai penaung.
Selanjutnya
dengan teknik budidaya yang benar akan dapat diperoleh tanaman kakao
dengan pertumbuhan baik dan produksi yang tinggi.

2 komentar Mei 18, 2008

HAMA TANAMAN KAKAO DAN PENGENDALIANNYA

Usaha pengembangan kakao di Lampung sering mengalami berbagai hambatan terutama oleh hama dan penyakit. Salah satu kendala utamanya adalah adanya beberapa jenis hama /penyakit yang sering menyerang tanaman kakao. Jenis hama/penyakit yang sering menyerang tanaman kakao di Lampung antara lain: (a) hama penggerek buah kakao; (b) kepik penghisap buah kakao, Helopeltis antonii Sign; dan (c) penyakit busuk buah, Phytophthora palmivora.

GEJALA SERANGAN

a. Penggerek buah kakao (PBK)
Conopomorpha cramerella
Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi.

b. Kepik penghisap buah (Helopeltis spp)
Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas.

c. Penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora)
Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab.

METODE PENGENDALIAN
Usaha pengendalian hama/penyakit tersebut terutama dilakukan dengan sistem PHT (pengendalian hama terpadu).
• Hama penggerek buah.
Pengendaliannya dilakukan dengan : (1) karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK; 2) pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen; (3) mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam; (4) penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.; (5) cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.

• Hama helopeltis
Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis <15 % sedangkan bila serangan >15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh. Selain itu hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula.

• Penyakit busuk buah.
Dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu: (1) sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm; (2) kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan lakukan pemangkasan pada tanaman-nya sehingga kelembaban di dalam kebun akan turun; (3) cara kimia, yaitu menyemprot buah dengan fungisida seperti :Sandoz, cupravit Cobox, dll. Penyemprotan dilakukan dengan frekuensi 2 minggu sekali; (4) penggunaan klon tahan hama/penyakit seperti: klon DRC 16, Sca 6,ICS 6 dan hibrida DR1.

Add a comment April 28, 2008

Manfaat Kakao

Coklat sudah lama menjadi elemen
kuliner yang penting bagi manusia. Coklat bisa menjadi kudapan yang asyik untuk anak-anak, lambang pergaulan bagi
remaja (apalagi di waktu Valentine seperti ini), maupun simbol gairah bagi yang sudah dewasa. Bahkan, konon coklat
juga bermanfaat bagi kesehatan, karena memiliki efek menurunkan stress dan menurunkan tekanan darah. Walaupun,
kebanyakan makan coklat sudah pasti menyebabkan kegemukan! Nah, menyambut hari Valentine tanggal 14 Februari,
dimana coklat dan cinta menyebar di udara, kolom Logikuliner kali ini akan secara khusus membahas dunia percoklatan.
Coklat sendiri adalah bahan yang diambil dari pemrosesan buah kakao. Sekitar dua pertiga kakao di dunia berasal dari
Afrika Barat, terutama dari sebuah negara bernama Pantai Gading. Walaupun demikian, Indonesia juga termasuk
penghasil kakao. Bahkan ada sebuah varietas kakao yang bernilai tinggi yang hanya ditemukan di Pulau Jawa.
Sebagian besar kakao tersebut diekspor ke Belgia, lalu diimpor kembali ke Indonesia dalam bentuk sebatang coklat jadi
yang harganya bisa mencapai Rp 80.000,-. Lagi-lagi, para petani kakao hanya bisa gigit jari, karena tidak kebagian
keuntungannya…
Oke deh, ini kan bukan kolom bisnis ya! Kembali ke coklat! Nah, bagian mana dari buah kakao yang menghasilkan
coklat? Yang digunakan adalah bijinya. Jadi, pertama-tama buah kakao dibuka, lalu diambil bijinya. Biji ini kemudian
difermentasikan selama 6 hari, sampai warnanya berubah dari ungu menjadi kecoklatan. Dalam tahap inilah aroma
coklat yang menggairahkan itu mulai muncul. Setelah fermentasi, biji kakao dijemur selama kurang lebih 20 hari, untuk
mengeringkan dari getahnya. Kemudian, dengan proses yang disebut winnowing, sang biji kakao ini disortir, dikupas dari
kulitnya, dibersihkan kulit arinya, sehingga biji dalamnya saja yang tertinggal.
Tahap berikutnya adalah blending – dimana beberapa jenis kakao yang berbeda bisa dicampur untuk mendapatkan
paduan rasa yang tepat. Lalu, dilakukan proses yang disebut alkalisasi. Dalam proses ini biasanya digunakan natrium
karbonat (Na¬¬2CO3) atau kalium karbonat (K2CO3) untuk mencapai pH 6.0 – 8.6. Tujuan proses ini adalah membuat
warna kakao menjadi lebih coklat, menghaluskan rasa coklat, dan membuat kakao lebih larut dalam air. Kok bisa begitu?
Rasa kakao secara alamiah cenderung pahit karena mengandung zat-zat alamiah berukuran molekul besar dan bersifat
basa bernama alkaloid. Dengan memproses biji kakao pada pH tertentu, maka bagian-bagian berpH rendah (yang
rasanya asam) dan alkaloid berpH tinggi (yang sangat pahit) akan terpisah dari kakao. Alkaloid yang tersisa sebagian
besar adalah dari jenis theobromine, yang selain lezat rasanya, juga mempunyai efek membangkitkan mood. Yummy!
Sesudah alkalisasi, proses kimia berikutnya yang tak kalah penting adalah roasting atau pemanggangan. Proses ini
umum dijumpai dalam pemrosesan bahan alami, seperti kopi dan teh. Sesudah dipanggang, biasanya aroma dan rasa
bahan akan lebih terasa. Mengapa begitu? Proses ini melibatkan pemanasan yang perlahan-lahan pada biji kakao.
Dengan pemanasan, maka struktur fisik bahan akan merekah, membuat molekul-molekul pembawa aroma terlepas dan
bebas menebarkan pesonanya. Efek lainnya adalah zat-zat bertitik didih rendah (biasanya golongan asam) akan
menguap sehingga tidak lagi mengganggu rasa. Bakteri-bakteri pembusuk dan jamur patogen juga akan mati, sehingga
biji kakao menjadi steril.
Proses berikutnya adalah kunci dari pembuatan coklat, yakni grinding dan pressing. Grinding adalah proses
penggerusan biji kakao menjadi serbuk coklat. Yang diinginkan adalah ukuran partikel dibawah 70 mikron (ingat ilustrasi
cendol yang menjelaskan pengaruh ukuran partikel?). Apa yang terjadi disini? Adonan coklat akan menjadi kental karena
dari biji kakao dihasilkan dua produk penting, yakni mentega coklat (cocoa butter) dan serbuk coklat (cocoa powder).
Adonannya sendiri disebut chocolate liquor. Dalam proses grinding, terjadi pemisahan fasa karena mengecilnya ukuran
partikel kakao. Partikel ini terlarut dalam lemak nabati alami dari coklat yang disebut mentega coklat tadi. Komposisinya
kira-kira adalah 50-60% mentega coklat, 39-48% serbuk coklat, 0.3-0.5% air, dan 0.1-1.5% sisa kulit biji kakao. Disinilah
terjadi transformasi dari ‚kakao’ menjadi ‚coklat’. Dan penting untuk diingat, bahwa yang
disebut ‚coklat’ ada dua: mentega coklat, dan serbuk (rasa) coklat.
Dari sinilah dua pertanyaan penting saya soal coklat terjawab. Pertanyaan pertama: kalau coklat warnanya coklat,
kenapa bisa ada white chocolate? Coklat kok putih, sama saja kan dengan blue jean merah? Des jadi, rasa coklat yang
kita kecap di mulut terdiri dari dua bagian: aroma rasa coklat dan yang disebut ‘mouth feel’, yakni
bagaimana coklat tersebut perlahan-lahan meleleh di mulut kita. Bahkan menurut sebuah studi dari BBC, coklat yang
lelehannya perlahan-lahan memenuhi rongga mulut manusia bisa memicu aktivitas otak dan menaikkan detak jantung
lebih intensif dari pada berciuman (asal yang dicium bukan istri tetangga – yang ini detak jantungnya pasti lebih besar,
hehe). Bahkan efeknya bisa bertahan empat kali lebih lama dari berciuman (asal yang dicium bukan selingkuhan – yang
satu itu lama juga efeknya!). Nah, dalam white chocolate, yang digunakan hanya mentega coklatnya saja, tapi serbuk coklatnya dihilangkan, sehingga rasa coklatnya pun hilang. Komposisi white chocolate biasanya 35-55% gula, 25-40%
mentega coklat, dan 25% produk susu, sementara dark chocolate terdiri dari 35-55% gula, 40-60% serbuk coklat, 20%
mentega coklat, dan 0-8% produk susu. Yang disebut white chocolate ternyata hanya diambil ‘mouth feel’-
nya saja, tanpa mengambil rasanya!

Add a comment April 28, 2008

Manfaat Coklat bagi Kesehatan

Kata coklat berasal dari xocoatl (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Suku Aztec dan Maya di Mexico percaya bahwa Dewa Pertanian telah mengirimkan coklat yang berasal dari surga kepada mereka. Cortes kemudian membawanya ke Spanyol antara tahun 1502-1528, dan oleh orang-orang Spanyol minuman pahit tersebut dicampur gula sehingga rasanya lebih enak. Coklat kemudian menyebar ke Perancis, Belanda dan Inggris. Pada tahun 1765 didirikan pabrik coklat di Massachusetts, Amerika Serikat.

Dalam perkembangannya coklat tidak hanya menjadi minuman tetapi juga menjadi snack yang disukai anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Selain rasanya enak, coklat ternyata berkhasiat membuat umur seseorang menjadi lebih panjang. Suatu studi epidemiologis telah dilakukan pada mahasiswa Universitas Harvard yang terdaftar antara tahun 1916-1950. Dengan menggunakan food frequency questionnaire berhasil dikumpulkan informasi tentang kebiasaan makan permen atau coklat pada mahasiswa Universitas Harvard.

Dengan mengontrol aktivitas fisik yang dilakukan, kebiasaan merokok, dan kebiasaan makan ditemukan bahwa mereka yang suka makan permen/coklat umurnya lebih lama satu tahun dibandingkan bukan pemakan. Diduga antioksidan fenol yang terkandung dalam coklat adalah penyebab mengapa mereka bisa berusia lebih panjang. Fenol ini juga banyak ditemukan pada anggur merah yang sudah sangat dikenal sebagai minuman yang baik untuk kesehatan jantung. Coklat mempunyai kemampuan untuk menghambat oksidasi kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah risiko penyakit jantung koroner dan kanker.

Selama ini ada pandangan bahwa permen coklat menyebabkan caries pada gigi dan mungkin juga bertanggung jawab terhadap munculnya masalah kegemukan. Tak dapat disangkal lagi bahwa kegemukan adalah salah satu faktor risiko berbagai penyakit degeneratif. Tetapi studi di Universitas Harvard ini menunjukkan bahwa jika Anda mengimbangi konsumsi permen coklat dengan aktivitas fisik yang cukup dan makan dengan menu seimbang, maka dampak negatip permen coklat tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Menurut kepercayaan suku Maya, coklat adalah makanan para dewa. Rasa asli biji coklat sebenarnya pahit akibat kandungan alkaloid, tetapi setelah melalui rekayasa proses dapat dihasilkan coklat sebagai makanan yang disukai oleh siapapun. Biji coklat mengandung lemak 31%, karbohidrat 14% dan protein 9%. Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin. Meski coklat mengandung lemak tinggi namun relatif tidak mudah tengik karena coklat juga mengandung polifenol (6%) yang berfungsi sebagai antioksidan pencegah ketengikan.

Di Amerika Serikat konsumsi coklat hanya memberikan kontribusi 1% terhadap intake lemak total sebagaimana dinyatakan oleh National Food Consumption Survey (1987-1998). Jumlah ini relatif sedikit khususnya bila dibandingkan dengan kontribusi daging (30%), serealia (22%), dan susu (20%). Lemak pada coklat, sering disebut cocoa butter, sebagian besar tersusun dari lemak jenuh (60%) khususnya stearat. Tetapi lemak coklat adalah lemak nabati yang sama sekali tidak mengandung kolesterol. Untuk tetap menekan lemak jenuh agar tidak terlalu tinggi, ada baiknya membatasi memakan cokelat hanya satu batang saja per hari dan mebatasi mengkonsumsi suplement atau makanan lainnya yang mengandung catechin seperti apple dan teh.

Dalam penelitian yang melibatkan subyek manusia, ditemukan bahwa konsumsi lemak coklat menghasilkan kolesterol total dan kolesterol LDL yang lebih rendah dibandingkan konsumsi mentega ataupun lemak sapi. Jadi meski sama-sama mengandung lemak jenuh tetapi ternyata efek kolesterol yang dihasilkan berbeda. Kandungan stearat yang tinggi pada coklat disinyalir menjadi penyebab mengapa lemak coklat tidak sejahat lemak hewan. Telah sejak lama diketahui bahwa stearat adalah asam lemak netral yang tidak akan memicu kolesterol darah. Mengapa? Stearat ternyata dicerna secara lambat oleh tubuh kita dan juga diabsorpsi lebih sedikit.

Sepertiga lemak yang terdapat dalam coklat adalah asam oleat yaitu asam lemak tak jenuh. Asam oleat ini juga dominan ditemukan pada minyak zaitun. Studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari minyak zaitun menyimpulkan efek positip oleat bagi kesehatan jantung.

Sering timbul pertanyaan seberapa banyak kita boleh mengkonsusmi coklat? Tidak ada anjuran gizi yang pasti untuk ini, namun demikian makan coklat 2-3 kali seminggu atau minum susu coklat tiap hari kiranya masih dapat diterima. Prinsip gizi sebenarnya mudah yaitu makanlah segala jenis makanan secara moderat. Masalah gizi umumnya timbul bila kita makan terlalu banyak atau terlalu sedikit.

Makan coklat tidak akan menimbulkan kecanduan, tetapi bagi sebagian orang rasa coklat yang enak mungkin menyebabkan kerinduan untuk mengkonsumsinya kembali. Ini yang disebut chocolate craving. Dampak coklat terhadap perilaku dan suasana hati (mood) terkait erat dengan chocolate craving. Rindu coklat bisa karena aromanya, teksturnya, manis-pahitnya dsb. Hal ini juga sering dikaitkan dengan kandungan phenylethylamine yang adalah suatu substansi mirip amphetanine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak yang kemudian pada gilirannya menghasilkan dopamine. Dampak dopamine adalah muncul perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta (hati berbunga). Konon Raja Montezuma di jaman dahulu selalu mabuk minuman coklat sebelum menggilir harem-haremnya yang berbeda setiap malam.

Katekin adalah antioksidan kuat yang terkandung dalam coklat. Salah satu fungsi antioksidan adalah mencegah penuaan dini yang bisa terjadi karena polusi ataupun radiasi. Katekin juga dijumpai pada teh meski jumlahnya tidak setinggi pada coklat. Orang tua jaman dahulu sering mempraktekkan cuci muka dengan air teh karena dapat membuat kulit muka bercahaya dan awet muda. Seandainya mereka tahu bahwa coklat mengandung katekin lebih tinggi daripada teh, mungkin mereka akan menganjurkan mandi lulur dengan coklat.

Coklat juga mengandung theobromine dan kafein. Kedua substansi ini telah dikenal memberikan efek terjaga bagi yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu ketika kita terkantuk-kantuk di bandara atau menunggu antrian panjang, makan coklat cukup manjur untuk membuat kita bergairah kembali.

Produk coklat cukup beraneka ragam. Misalnya, ada coklat susu yang merupakan adonan coklat manis, cocoa butter, gula dan susu. Selain itu ada pula coklat pahit yang merupakan coklat alami dan mengandung 43% padatan coklat. Coklat jenis ini bisa ditemukan pada beberapa produk coklat batangan. Kandungan gizi coklat bisa dilihat pada tabel.

Zat Gizi Coklat Susu Coklat Pahit
Energi (Kal) 381 504
Protein (g) 9 5,5
Lemak (g) 35,9 52,9
Kalsium (mg) 200 98
Fosfor (mg) 200 446
Vit A (SI) 30 60

Belum ada bukti bahwa coklat menimbulkan jerawat. Coklat juga tidak bisa dikatakan sebagai penyebab utama munculnya plaque gigi karena plaque gigi juga bisa timbul pada orang yang mengkonsumsi makanan biasa sehari-hari. Hanya saja coklat perlu diwaspadai, khususnya bagi orang-orang yang rentan menderita batu ginjal. Konsumsi 100 g coklat akan meningkatkan ekskresi oksalat dan kalsium tiga kali lipat. Oleh karena itu kiat sehat yang bisa dianjurkan adalah minumlah banyak air sehabis makan coklat.

1 komentar April 28, 2008

MASA SEBELUM NASIONALISASI 1957

Pada masa 1886, ada tiga buah lembaga penelitian yang didirikan oleh pabrik-pabrik gula di Jawa, yaitu Proefstation voor suikerriet in West Java di Cirebon melalui Gouverment Besluit No. 2 tangal 23 juli 1886, het Proefstation Midden Java di Semarang melalui Gouverment Besluit No 217 tangga 22 November 1886, serta Het Proefstation Oost Java Pasuruan melalui Gouverment Besluit No 31 tanggal 8 Juli 1887. Setelah dilakukan penyederhanaan dan penggabungan ketiga institusi tersebut disatukan pada tahun 1921, dan pada tahun 1943 dilanjutkan oleh Togyo Shikensho di bawah pengawasan administrasi militer Jepang. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, selama tahun 1847-1957, institusi penelitian gula tersebut dikelola oleh pabrik-pabrik gula Indonesia. Setelah terjadi nasionalisasi perkebunan milik bangsa Belanda, institusi ini sejak 10 Desember 1957 dikelola oleh Badan Koordinasi Perkumpulan dan Organisasi Perkebunan dan diberi nama Balai Penyelidikan Perusahaan Perkebunan Gula (BP3G).

Pada tahun 1901, Kebun Raya Bogor melakukan penelitian teh, kopi, tembakau, dan karet dan pada tahun yang sama pengusaha perkebunan kakao di Jawa Tengah mendirikan Proefstation voor Cocoa di Salatiga yang diperluas cakupan komoditinya menjadi Algemeen Proefstation voor de Bergcultures, serta pengusaha perkebunan Sukabumi mendirikan Proefstation voor Thee melalui Gouverment Besluit No 16 tanggal 13 April 1902. Karena alasan jarak antara lokasi kebun dengan lembaga penelitiannnya, maka Algement Proefstation voor de Bergcultures dan Proefstation voor Thee dibubarkan, tetapi dibentuk empat institusi penelitian yang menggantikanya, yaitu : Proefstation voor Rubber di Bogor, Algemeen Proefstation voor Thee di Bogor, dan Malang Proefstation di Malang dan Besoekisch Proefstation di Jember. Pada tanggal 31 mei 1911, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Proefstation voor Kina di Pengalengan, melalui Gouverment Besluit No. 35.

Lembaga Penelitian teh tersebut dibiayai oleh Vereniging Algemeen Proefstation voor Thee. Setelah terjadi krisis pembiayaan pada tahun 1925, maka lahirlah Algemeen Ladbouw Syndicaat (ALS) yang membiayai instituysi penelitian perkebunan di jawa tersebut, kecuali penelitian gula. Ternyata cara ini tak dapat mengatasi masalah, sehingga diberlakukan Crisis Cultuur Ordonanties 1933 (stbl. 1933 Nos 202-209) yang antara lain menetapkan badan pengelola khusus untuk ketiga balai penelitian tersebut melalui Gouvermeet Besluit N0. 2 tanggal 4 mei 1933. Badan pengelola disebut Centrale Vereniging tot Beheer van Proefstatiion voor der Overjarige Cultures in Nederlandsxh – Indie (CPV), yang memungut iuran berdasarkan hukum publik (wajib), untuk memenuhi biaya operasional balai penelitian tersebut. Selanjutnya, Proefstation West Java diubah menjadi CPV Bogor, Proefstation Midden Oost Java menjadi CPV Malang, dan Besoekisch Proefstation menjadi CPV Jember. Pada tahun 1952, ketiga balai ini digabung menjadi satu, yaitu Proefstation der CPV dan kantor pusatnya berkedudukan di Bogor.

Di Sumatera, pada tahun 1916 didirikan pula Algemeen Proefstation der AVROS (APA) oleh perusahaan perkebunan yang tergabung dalam Algemeen Vereniging Rubber Planters Ooskust van Sumatera (AVROS). Pada tahun 1941, AVROS bersama Bond van Eigenaren van Netherland-Indische Rubber Ondernemingen membentuk pula badan otonomi yang bertugas mengembangkan penelitian dan pemakaian karet alam, yang dinamakan Netherlands Indische Instituut voor Rubber Onderzoek Stichting (NIRO Stichting) yang memvawahi satu balai, yaitu INIRO

Add a comment Maret 30, 2008

MASA SETELAH NASIONALISASI

Setelah nasionalisasi pada tahun 1957, APA dikelola oleh Gabungan Perusahaan Perkebunan Sumatera (GAPPERSU) dan APA diubah namanya menjadi RISPA (Research Institute of Sumatera Planters Association). Di tahun yang sama, Proefstation der CPV Bogor diubah menjadi Balai Penyelidikan Perkebunan Bogor, yang meliputi sub-Balai Penelitian Budidaya jember. Bulan September 1963, Badan Pimpinan Umum (BPU) PPN Karet membentuk RRC di Tanjung Morawa untuk wilayah Sumetera dan di Cinyiruan untuk wilayah Jawa yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama Marihat Research Station. Research Center Cinyiruan meneruskan penelitian teh dan kina, dan Research Center Getas melakukan penelitian karet.

Pada bulan September 1968 terjadi regrouping PPN atas dasar wilayah dan komoditi sehingga instansi penelitian tersebut di atas diserahkan kepada beberapa PNP sebagai pembinanya. Pada tahun 1968 RISPA diubah menjadi Balai Penelitian Perkebunan Medan, sedangkan Balai Penelitian Perkebunan Bogor, melalui Keputusan Menteri Pertanian No 366/Kpts/Org/XII/1968 tanggal 31 Desember 1968. Pada tahun 1973 didirikan Balai Penelitian Teh dan Kina (BPTK) Gambung (SK Mentan No. 14/Kpts/UM/1973, tanggal 10 Januari 1973), dan pada tahun 1981 didirikan pula Balai Penelitian Perkebunan Sembawa dan Balai Penelitian Perkebunan Sungei Putih (SK Mentan No. 786/Kpts/Org/9/1981). Pada tahun yang sama, Marihat Research Station diubah menjadi Pusat Penelitian Marihat dan pada tahun 1982 didirikan pula Pusat Penelitian Kelapa yang berlokasi di Galang, Sumater Utara.

Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi sejak program nasionalisasi tersebut, maka pengelola dan penyandang dana bagi kegiatan penelitian perkebunan juga mengalam beberapa penyesuaian. Pada tahun 1957-1964, pengelolaan dilakukan oleh Badan Koordinasi Perkumpulan dan Organisasi Perkebunan, pada periode 1965-1967 dikelola oley Yayasan Dana Penelitian Pendidikan Perkebunan, pada periode 1968-1970 dikelola dengan dana Cess, pada periode 1971-1975 dikelola oleh Dewan Pembinan Balai Penelitian Litbang Perkebunan dengan dana cess pula, pada periode 1975-1980 dikelola oleh Badan Litbang Pertanian dengan anggarandari proyek penelitian, dan pengelollan pada periode 1980-1986 dilakukan oleh Pengurus Balai-balai Penelitian Perkebunan dengan biaya dari pemerintah dan PNP-PNP.

Add a comment Maret 30, 2008

MASA ASOSIASI 1987

Sistem pembiayaan penelitian sepertiyang tersebut terakhir di atas menimbulkan beberapa hambatan akibat : (i) kesulitan pemerintah mendanai balai-balai penelitian ex-Belanda yang statusnya bukan pengawai negeri, (ii) beban PNP-PNP dalam pembiayaan ganda balai penelitian dan research center yang melakukan kegiatan komoditi yang sama, dan (iii) rendahnya efisiensi biaya dan pengelolaan. Untuk mengatasi kendala ini maka pada tahun 1987 dibentuk Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia (AP3I) yang beranggotakan BUMN Perkebunan dan Perusahaan Perkebunan Swasta serta menjalin kerjasama yang erat dengan pemerintah. Melalui SK Menteri Pertanian No. 823/Kpts/KB/8110/II/89, pengelolaan dan pendanaan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk komoditi perkebunan diserahkan kepada AP3I. Institusi penelitian yang diserahkan kepada AP3I meliputi 10 balai penelitian, yaitu Pusat Penelitian Perkebunan (Puslitbun) Bogor menangani penelitian rintisan, Puslitbun Sungei Putih untuk Penelitian Karet, Puslitbun Tanjung Morawa untuk penelitian karet, Puslitbun Getas untuk penelitian karet, Puslitbun Medan untuk penelitian Kelapa Sawit, Puslitbun Marihat untuk penelitian kelapa sawit, Puslitbun Bandar Kuala untuk penelitian kelapa, Puslitbun Gambung unuk penelitian teh dan kina, serta Puslitbun Jember untuk penelitiankopi dan kakao. Untuk menguasai aspek ekonomi dan pemasaran, maka AP3I membentuk Pusat Penelitian dan Pengkajian Agribisnin (P2PA) melalui TAP RA AP#I Nomor 12/ra/1989 dan Memorandum Menteri Muda Pertanian No. 05.210/145/MM/IX/89.

Agar dapat melakukan koordinasi dengan lebih baik, pada tahun 1992 dilakukan reorganisasi institusi penelitian dengan cara mengelompokkannya berdasakan komositas yang ditanganinya. Atas dasar itu, maka Puslitbut Jember diubah menhadui Pusat Penelitian (Puslit) Kopi dan Kakao, Puslitbun Gambung diubah menjadi Puslit Teh dan Kina, puslitbun Medan digabugn dengan Puslitbun Marihat dan Bandar Kuala menjadi Puslit Kelapa Sawit, sedangkan Puslitbun Getas, Puslitbun Sembawa, Puslitbun Sungei Putih, dan Bagian Teknologi karet Bogor Puslitbun Bogor digabungkan menjadi Puslit Karet. Untuk puslit yang merupakan gabungan beberapa puslitbun,puslibun ditetapkan sebagai balai penelitian yang secara organisasi berasa di bawah puslit. Dalam rangka mengikuti perkembangan teknologi, Bagian Penelitian Budidaya Puslitbun Bogor diubah menjadi Puslit Bioteknologi Perkebunan melalui SK DPH AP3I No. 084/Kpts/DPH/XII/1992 pada akhir tahun 1992.

Pada tanggal 1 Februari 1996, AP3I dan Asosiasi Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (AP3GI) dilebur menjadi satu asosiasi dengan nama Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (APPI). AP2GI beranggotakan BUMN dan perusahaan gula milik swasta yang hanya memiliki satu balai penelitian, yaitu Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula (BP3G) di Pasuruan, yang pada tahun 1987 diberi nama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia(P3GI). Selanjutnya dilakukan reorganisasi, sehingga APPI mengelola lima pusat penelitian, yaitu : Puslit Kelapa Sawit, Puslit Karet, Puslit Teh dan Kina, Puslit Kopi dan Kakao, serta P3GI. Puslit bioteknologi Perkebunan diserahkan di bawah koordinasi Balai Penelitian Biotkenologi Perkebunan (Balit Bio), sedangkan P2PA diserahkan di bawah koordinasi Puslit Sosial Ekonomi (PSE). Balit Bio dan PSE ini adalah instansi resmi milik Badan Litbang Pertanian. Meskipun di bawah koordinasi Badan Litbang Pertanian, sampai saat ini pembiayan operasional ex-Puslit Bioteknologi dan ex-P2PA masih ditanggung oleh APPI karena status kepegawaiannya tidak dapat dijadikan pegawai negeri sipil. Walaupun di bawah Badan Litbang Pertanian, kegiatan penelitian dari kedua puslit tersebut terakhir ini tetap pada komoditi perkebunan.

Sumber : Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (www.ipard.com)

Add a comment Maret 30, 2008

C..h..o..c..o..l..a..t..e!!!

       

Very Delicious……….!!!

1 komentar Maret 13, 2008

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

September 2016
S S R K J S M
« Mei    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts